Masih kata Zuhri, pemicu ketiga adalah iseng. Tidak sedikit dari mereka mengaku menjadi gay hanya karena coba-coba.
Awalnya, dia tertarik mempelajari seluk beluk gay dari teman-temannya. Namun, pada akhirnya, pria tersebut benar-benar tertarik menjadi penyuka sesama jenis.
‘’Bisa disimpulkan para LGBT ini sebagian besar mengalami trauma di masa lalu yang mendalam. Lebih ke persoalan psikologis atau mental,’’ jelas dokter yang bertugas di RSUD dr R. Koesma Tuban itu.
Apakah benar jumlah gay di Tuban mencapai ribuan? Zuhri mengatakan, gay yang terdata saat ini hanya yang menjadi pasien HIV AIDS. Selebihnya, belum ada angka valid yang merujuk jumlah pasien gay di Bumi Ronggolawe.
Kepada wartawan koran ini, dia membenarkan ada aplikasi atau medsos yang menjadi tempat gay cari pasangan atau sekadar menambah relasi.
‘’Beberapa pasien saya pernah menunjukkan aplikasi khusus tersebut,’’ terang dokter kelahiran Lamongan itu.
Dia melanjutkan, saat aplikasi dinyalakan di Sleko, Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding, platform pencari gay tersebut mendeteksi sekitar sepuluh orang gay yang sedang mencari pasangan di radius 1 kilometer.
Dengan sampel tersebut, bukan tidak mungkin jumlah lelaki penyuka sesama jenis di Tuban jumlahnya cukup besar.
‘’Sebagian dari mereka sudah beristri atau bisa dibilang bisexual,’’ ungkapnya.
Awan gelap masih menggantung di langit industri Asia. Pada November, mesin-mesin manufaktur di China, Jepang,…
Penurunan harian kembali menampar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Namun di balik garis merah hari…
Siapa sebenarnya pemilik sah Bank Neo Commerce (BBYB)? Pertanyaan itu kembali mencuat setelah struktur kepemilikan…
Pergerakan indeks domestik kembali menunjukkan betapa pasar masih dihantui keraguan. Pada perdagangan Jumat (21/11) IDX…
Ada jeda napas yang terasa jelas dalam laporan keuangan PT Bank Central Asia Tbk (BCA)…
Aroma kehati-hatian terasa pekat di Gedung Thamrin. Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang digelar…