Salah satu kepercayaan masyarakat Jawa yang masih kental adalah menikah di malam songo tidak perlu menghitung neptu atau hitungan penanggalan Jawa pasangan pengantin. Begitu juga hitungan tanggal dilangsungkannya pernikahan.
Kasi Bimas Islam Kemenag Tuban Mashari menambahkan, petugas KUA mulai mengakadkan pasangan pengantin sejak Rabu siang setelah duhur hingga menjelang subuh.
Jadwal yang panjang tersebut, kata dia, karena jumlah yang dinikahkan sangat banyak. Terutama di sejumlah kecamatan yang jumlah pendaftarnya tertinggi. Seperti Kecamatan Widang 38 pasang pengantin, Kecamatan Parengan 37, Kecamatan Semanding 35 pasangan, Kecamatan Rengel 30 pasangan, dan Kecamatan Soko 36 pasangan.
‘’Jumlah penghulu yang kami terjunkan 32 penghulu, dan semua harus bertugas menikahkan dalam satu waktu. Jadi harus bergantian,’’ ujarnya. (fud/ds)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Tuban, silakan bergabung di Grup Telegram “Radar Tuban”. Caranya klik link join telegramradartuban. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Page: 1 2
Awan gelap masih menggantung di langit industri Asia. Pada November, mesin-mesin manufaktur di China, Jepang,…
Penurunan harian kembali menampar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Namun di balik garis merah hari…
Siapa sebenarnya pemilik sah Bank Neo Commerce (BBYB)? Pertanyaan itu kembali mencuat setelah struktur kepemilikan…
Pergerakan indeks domestik kembali menunjukkan betapa pasar masih dihantui keraguan. Pada perdagangan Jumat (21/11) IDX…
Ada jeda napas yang terasa jelas dalam laporan keuangan PT Bank Central Asia Tbk (BCA)…
Aroma kehati-hatian terasa pekat di Gedung Thamrin. Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang digelar…