pembuatan bubur sura ini sampai kapan pun,” tutur lulusan SMP Mualimin Tuban itu.
Di perkotaan Tuban, bubur ini hanya dibuat dalam jumlah besar di halaman Masjid Muhdor, Jalan Pemuda dan halaman Masjid Astana kompleks makam Sunan Bonang Tuban yang juga merupakan kawasan perkampungan Arab. Tradisi pembuatan bubur sura sudah berlangsung sejak ratusan tahun silam.
Karena bubur ini menjadi takjil puasa, maka pembagiannya pun menjelang maghrib sekitar pukul 16.30. Sebelum dibagikan, pengantre bubur dari berbagai daerah di Tuban sudah menyerbu sejak sore.
Mereka tidak hanya membawa mangkok dan rantang. Sebagian membawa panci dan timba. Pengantre yang membawa dua wadah yang disebut terakhir tersebut biasanya dari perwakilan musala.
Saiful, salah satu pengantre mengatakan, dirinya setiap tahun dirinya rutin mengantre. ‘’Rasanya enak, cocok untuk takjil buka puasa,’’ ujarnya. (ds)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Tuban, silakan bergabung di Grup Telegram “Radar Tuban”. Caranya klik link join telegramradartuban. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Page: 1 2
Awan gelap masih menggantung di langit industri Asia. Pada November, mesin-mesin manufaktur di China, Jepang,…
Penurunan harian kembali menampar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Namun di balik garis merah hari…
Siapa sebenarnya pemilik sah Bank Neo Commerce (BBYB)? Pertanyaan itu kembali mencuat setelah struktur kepemilikan…
Pergerakan indeks domestik kembali menunjukkan betapa pasar masih dihantui keraguan. Pada perdagangan Jumat (21/11) IDX…
Ada jeda napas yang terasa jelas dalam laporan keuangan PT Bank Central Asia Tbk (BCA)…
Aroma kehati-hatian terasa pekat di Gedung Thamrin. Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang digelar…