Categories: Lifestyle

Meski Pernah Alami Mesin Perahu Macet, Tetap Bikin Pemancing Mania Keranjingan

Selama ini, perahu fiberglass yang dioperasikan anggota komunitas Badong hanya untuk memancing harian di area perairan laut Tuban. Kalau ingin memancing lebih jauh dan berhari-hari, mereka harus menyewa perahu yang kapasitasnya sesuai.

Seperti tahun lalu. Roni bersama enam pemancing lainnya berburu ikan hingga ke Pulau Madura. Untuk mengarungi Laut Jawa selama dua hari, dibutuhkan perahu bercadik atau pelampung penyangga sebagai keseimbangan.

Perahu tersebut disewanya dari nelayan Kelurahan Kingking, Kecamatan Tuban yang biasa melayani pemancing. Biaya sewanya Rp 1.750.000. Biaya tersebut sudah termasuk layanan menu makan dan minum ala nelayan yang disiapkan kru perahu tersebut.

Selain memiliki perahu sendiri, komunitas Badong juga mempunyai dua anggas (rumpon terapung, Red). Rumah ikan inilah yang jadi jujukan anggota komunitas ini setiap memancing harian; berangkat pagi, pulang sore.

Anggas ini berjarak sekitar 4-5 kilometer (km) dari garis pantai. Jarak tempuhnya sekitar satu hingga dua jam.

Kalau laut tenang dan airnya jernih selama musim angin daratan, sekitar April, Juni, dan Agustus, Roni bersama teman-temannya punya kebiasaan ekstrem memancing sambil menceburkan diri ke laut.

Selama memancing di tengah laut, alumni Ponpes Darul Ulum Jombang itu hanya sekali mengalami tragedi kecil macetnya mesin perahu. Setelah terombang-ambing sekitar tiga jam, perahu nelayan yang melintas menolongnya.

‘’Perahu yang saya naiki akhirnya mendarat setelah ditarik,’’ tuturnya.

Giri Prabowo, ketua Badong menambahkan, komunitasnya berdiri pada 2002 atau 21 tahun silam. Dia menyebut komunitasnya tersebut menghimpun sekitar 70 pemancing mania.

Istilah mania disematkan untuk pehobi memancing yang levelnya keranjingan, tidak biasa saja. Mereka tidak hanya berdomisili di sekitar Kecamatan Jenu, mulai Desa Sumurgenang, Wadung, Mentoso, Remen, Jenggolo, Beji, dan Kali Untu, na mun juga dari Bojonegoro, Lamongan, Gresik, serta Surabaya.

Latar belakangnya beragam, politikus, pejabat, guru, pengusaha, karyawan swasta, nelayan, pedagang, polisi, dan petani.

Saking tingginya intensitas memancing, kata Giri, anggota komunitasnya sudah menghabiskan tiga perahu. Perahu fiberglas yang sekarang ini dioperasikan merupakan generasi ketiga.

Perahu bekas dengan kapasitas normal 10-12 orang tersebut dibelinya dengan harga Rp 160 juta.

‘’Saya hanya perlu rekondisi sebelum dipakai,’’ tutur guru SMPN 1 Jenu itu.

Page: 1 2 3

Dwi Setiyawan

Recent Posts

Industri Manufaktur Asia Melemah di Tengah Tekanan Global, Indonesia Muncul Sebagai Pengecualian Tangguh

Industri Manufaktur Asia Melemah di Tengah Tekanan Global, Indonesia Muncul Sebagai Pengecualian Tangguh

Awan gelap masih menggantung di langit industri Asia. Pada November, mesin-mesin manufaktur di China, Jepang,…

2 months ago

IHSG Terkoreksi Harian, Namun Kinerja Sebulan Terakhir Masih Mengilap!

Penurunan harian kembali menampar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Namun di balik garis merah hari…

2 months ago

Struktur Pemilik Bank Digital BBYB Berubah, Siapakah Pengendali Saham Terbesar?

Siapa sebenarnya pemilik sah Bank Neo Commerce (BBYB)? Pertanyaan itu kembali mencuat setelah struktur kepemilikan…

2 months ago

IHSG Tersengal di Zona Merah, Pasar Masih Ragu Menguat: Kapitalisasi Pasar Tetap Kokoh di Atas Rp 15.000 Triliun!

Pergerakan indeks domestik kembali menunjukkan betapa pasar masih dihantui keraguan. Pada perdagangan Jumat (21/11) IDX…

2 months ago

Laba Melambat, Pencadangan Melonjak: BCA Jaga Fondasi di Tengah Tekanan Margin

Ada jeda napas yang terasa jelas dalam laporan keuangan PT Bank Central Asia Tbk (BCA)…

2 months ago

BI-Rate Tetap 4,75 Persen, Fokus Jaga Rupiah dan Pacu Pertumbuhan 2026

Aroma kehati-hatian terasa pekat di Gedung Thamrin. Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang digelar…

2 months ago