
ERA BARU: Salah satu poster sosialisasi penggunaan QRIS sebagai syarat pembelian solar subsidi di SPBU Desa Beji Kecamatan Jenu kemarin (7/2). (Zidni Ilman Nafia/Radar Tuban)
Radartuban.jawapos.com – Uji coba penggunaan sistem Quick Response Code Indonesia Standar (QRIS) sebagai syarat wajib pembelian solar bersubsidi sejak 26 Januari 2023 menuai polemik. Sejumlah sopir truk di Tuban mengeluhkan susahnya aplikasi tersebut.
Khoirul Anam, sopir truk asal Desa Bulujowo, Kecamatan Bancar ini mengaku kerepotan menggunakan aplikasi tersebut.
‘’Mau beli solar saja repot,’’ katanya emosi dengan aplikasi yang dianggap menyusahkan tersebut.
Disampaikan dia, selain ribet, juga tidak semua sopir truk paham dengan aplikasi tersebut. Bahkan, tidak jarang sopir truk masih menggunakan HP jadul, sehingga tidak bisa mendownload aplikasi.
‘’Nggak habis pikir saya, semakin mem buat rakyat susah,’’ keluhnya.
Selain persoalan teknis pembelian, penggunakan QRIS juga sering kali memicu antrean panjang. Sebab harus menunggu sistem terkoneksi.
‘’Anehnya lagi, katanya di SPBU dilarang menggunakan HP, tapi sekarang harus menggunakan HP. Ini aturan yang benar yang mana tidak jelas,’’ tandasnya masih dengan emosi karena solar di SPBU juga masih sering habis.
Page: 1 2
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menutup perdagangan di zona hijau. Berdasarkan data RTI Business,…
Industri otomotif nasional menutup 2025 dengan napas lega. Bukan karena lonjakan spektakuler sepanjang tahun, melainkan…
Pasar saham domestik akhirnya menutup perdagangan dengan nada hijau. Data RTI Business menunjukkan, Indeks Harga…
Angka 10.000 bukan sekadar target. Ini adalah pesan. Ketika Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melontarkan…
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Kamis (8/1) di zona merah. Setelah sempat bergerak…
Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam/ANTM) kembali merangkak naik. Pada Senin (1/12), harga…