Suwarno, warga lain desa setempat yang juga turut menjadi saksi mata penemuan mengatakan, ciri-ciri benda arkeologi bertuliskan huruf aksara Tionghoa, termasuk beberapa jenis koin yang bentuk tengahnya berlubang tersebut.
Jika ditimbang, kata dia, mungkin beratnya mencapai kurang lebih 200 kilogram (kg).
‘’Tapi sekarang tinggal sedikit,’’ ujarnya.
Dari ketiga benda yang ditemukan, lanjut S, yang tersisa sampai sekarang hanya koin saja.
Sementara dua benda lainnya, batu serupa batu bata merah dan kendi sudah hilang entah ke mana. Wartawan koran ini bersama perangkat desa beberapa hari ini mencoba mencari artefak yang hilang ke beberapa warga desa sekitar, namun hasilnya nihil. Tidak ada yang mengaku membawa benda dimaksud.
Awan gelap masih menggantung di langit industri Asia. Pada November, mesin-mesin manufaktur di China, Jepang,…
Penurunan harian kembali menampar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Namun di balik garis merah hari…
Siapa sebenarnya pemilik sah Bank Neo Commerce (BBYB)? Pertanyaan itu kembali mencuat setelah struktur kepemilikan…
Pergerakan indeks domestik kembali menunjukkan betapa pasar masih dihantui keraguan. Pada perdagangan Jumat (21/11) IDX…
Ada jeda napas yang terasa jelas dalam laporan keuangan PT Bank Central Asia Tbk (BCA)…
Aroma kehati-hatian terasa pekat di Gedung Thamrin. Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang digelar…