‘’Saat rekrutmen pantarlih hanya ditemukan nama Murti. Dari situlah, akhirnya kami minta menjadi pantarlih karena hanya dia dan suaminya yang ada dalam data,’’ ungkap Siswanto hingga akhirnya kejanggalan sejak awal itu terungkap ketika dilakukan coklit.
‘’Saat proses coklit, sebenarnya dari 277 data pemilih ada 42 orang terdeteksi. Itu pun ternyata juga sudah meninggal semua,’’ tandasnya turut terheran-heran dengan data tersebut.
Lebih lanjut Siswanto menyampaikan, ada juga dari 42 nama orang yang sudah meninggal tersebut, salah satu namanya terdeteksi mirip dengan nama anggota keluarganya.
‘’Mirip dengan nama bude saya. Tapi tidak mungkin juga bude saya setua itu, kelahiran 1938,’’ bebernya. (fud/tok)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Tuban, silakan bergabung di Grup Telegram “Radar Tuban”. Caranya klik link join telegramradartuban. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Pasar modal kembali memanas. PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)…
Dominasi New York di panggung finansial internasional kembali mendapat legitimasi. Kota berjuluk “The Capital of…
Bursa saham Indonesia kembali berguncang. Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup turun 24,73 poin atau…
PT Hafar Daya Konstruksi (HDK) akhirnya buka suara. Perusahaan yang merupakan anak usaha PT Petrosea…
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan gejolak pasar keuangan yang belum reda, cadangan devisa Indonesia…
Dunia keuangan global bersiap menghadapi gempa besar. Perusahaan pengembang ChatGPT, yakni OpenAI, tengah menyiapkan langkah…