
Radartuban.jawapos.com – Huda, A, salah satu petani di Desa Mandirejo, Kecamatan Merakurak mengungkapkan, kerumitan mendapatkan kartu berlangsung sejak dalam proses pembuatannya. Menurutnya, rata-rata petani kesusahan saat membikin kartu dimaksud.
Sering kali pada saat pendataan muncul ketidaksesuaian data.
Baca Distribusi Kartu Tani Tak Maksimal
‘’Seringnya nama dan NIK tidak cocok, jadi susah dan ribet,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Mungkin sebab itulah, terang dia berasumsi, proses pendistribusian kartu tani berjalan lamban. Di sisi lain, lanjut dia, ketersedian kartu dari pihak bank juga terbatas. Petani muda itu menyampaikan, banyak petani yang sudah terdaftar, namun kartunya belum jadi.
‘’Dari proses pembuatan hingga penerimaan kartu memang susah. Banyak hambatannya,’’ katanya.
Page: 1 2
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menutup perdagangan di zona hijau. Berdasarkan data RTI Business,…
Industri otomotif nasional menutup 2025 dengan napas lega. Bukan karena lonjakan spektakuler sepanjang tahun, melainkan…
Pasar saham domestik akhirnya menutup perdagangan dengan nada hijau. Data RTI Business menunjukkan, Indeks Harga…
Angka 10.000 bukan sekadar target. Ini adalah pesan. Ketika Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melontarkan…
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Kamis (8/1) di zona merah. Setelah sempat bergerak…
Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam/ANTM) kembali merangkak naik. Pada Senin (1/12), harga…