Aplikasi dan website tersebut nantinya akan memunculkan asal muasal dari mana sumber foto atau gamar dalam berita.
Sedangkan untuk memverifikasi video bisa melalui dua website yang disediakan. Untuk verifikasi dari media sosial Youtube bisa melalui https://citizenevidence.amnestyusa.org.
Sementara video yang tidak ada dalam platform Youtube bisa melalui https://www.invid-project.eu.
‘’Khusus untuk verifikasi video, tidak bisa dilakukan melalui smarthphone, harus melalui komputer atau laptop,’’ paparnya.
Alat-alat tersebut, lanjut dia, bisa dijadikan rujukan bagi masyarakat untuk memverifikasi kebenaran akan berita yang tersebar. Sehingga masyarakat bisa lebih berhati-hati memercayai sebuah berita.
Ditegaskan Azam, meski biasanya selalu ada pemantauan media sosial dari pihak terkait, seperti dari Kementerian Infomasi dan Komunikasi (Kominfo), namun pemberantasan pemberitaan hoax harusnya bisa diminimalisir dari setiap individu.
‘’Karena kesadaran untuk memerangi berita hoax harus dimulai dari diri sendiri—individu masing-masing,’’ pungkasnya. (zid/tok)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Tuban, silakan bergabung di Grup Telegram “Radar Tuban”. Caranya klik link join telegramradartuban. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Daftar Top 10 Orang Terkaya ASEAN 2025 yang dirilis seasia.stats dengan rujukan Forbes Real-Time Billionaires…
Peta persaingan industri laptop global kembali menegaskan satu fakta lama: pasar ini masih dikuasai segelintir…
Dunia bisnis global memasuki babak baru. Bukan lagi didominasi wajah-wajah senior berambut perak, daftar orang…
Peta kekuatan korporasi Asia Tenggara bergeser. Untuk pertama kalinya, perusahaan asal Indonesia berdiri paling tinggi…
Posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir 2025 menunjukkan ketahanan di tengah tekanan global…
Menjelang libur panjang akhir pekan, laju rupiah kembali tertahan. Tekanan eksternal yang belum mereda membuat…