Angka 10.000 bukan sekadar target. Ini adalah pesan. Ketika Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melontarkan optimisme Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa menyentuh level itu tahun ini, pasar menangkapnya sebagai sinyal kepercayaan diri negara. Namun di balik nada optimistis tersebut, regulator memilih berdiri dengan kaki lebih menapak.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Kamis (8/1) di zona merah. Setelah sempat bergerak di area hijau pada awal sesi, indeks kehilangan tenaga dan berakhir turun 19,342 poin atau 0,22 persen ke level 8.925,471. Pasar kembali menunjukkan wajah rapuh: kenaikan cepat, koreksi lebih cepat.
Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam/ANTM) kembali merangkak naik. Pada Senin (1/12), harga emas satu gram terkerek Rp 2.000 hingga menyentuh Rp 2.415.000 per gram. Kenaikan kecil yang justru mempertegas tren fluktuatif tajam dalam beberapa hari terakhir.
Awan gelap masih menggantung di langit industri Asia. Pada November, mesin-mesin manufaktur di China, Jepang, Korea Selatan, hingga Taiwan kembali melambat, menandai permintaan global yang belum pulih. Namun di tengah lesunya kawasan, justru Indonesia bersama Vietnam dan Malaysia bangkit menjadi pengecualian yang memberi warna berbeda.
Penurunan harian kembali menampar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Namun di balik garis merah hari ini, terselip fakta yang justru menguatkan: laju akumulasi 30 hari terakhir masih solid di zona hijau. Pasar seperti mengirim pesan berlapis—fluktuatif di permukaan, tetapi tetap bergerak naik dalam rentang waktu yang lebih panjang.
Siapa sebenarnya pemilik sah Bank Neo Commerce (BBYB)? Pertanyaan itu kembali mencuat setelah struktur kepemilikan emiten bank digital tersebut bergeser. Pergerakan saham di balik meja justru semakin mempertegas satu hal: BBYB sedang memasuki fase konsolidasi para pemilik modal, sementara harga sahamnya berlari kencang di lantai bursa.