Radartuban.jawapos.com– Penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) semakin tak terkendali. Sejak awal muncul pada Januari hingga akhir pekan ini, penyakit ternak yang biasa disebut cacar sapi itu dilaporkan menjangkiti sedikitnya 650 ekor sapi. Tersebar di hampir semua kecamatan se-Kabupaten Tuban.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan pada Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DK P2P) Kabupaten Tuban Pipin Diah Larasati mengemukakan, LSD kian banyak menjangkiti sapi karena penyakit tersebut penularannya sangat cepat.
Melalui sentuhan tangan manusia dan bahan material yang sudah terkontaminasi, hingga gigitan nyamuk, lalat, caplak yang mengisap darah sapi yang terpapar.
Selain itu, penularan LSD kian cepat karena para peternak dirundung cemas. Begitu mengetahui sapinya terpapar LSD, para peternak buru-buru menjual sapinya karena takut sapi tersebut mati dan peternak merugi total.
Akibatnya, LSD dibawa sapi terjual itu menjamah ke lain-lain tempat, menular ke sapi-sapi baru.
‘’Jadi, sapi terjangkit LSD jangan dijual. Untuk menekan penularan,’’ tegas Pipin sapaan akrabnya kepada Jawa Pos Radar Tuban kemarin (8/4).
Mantan Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Tuban ini melanjutkan, pihaknya mengimbau kepada peternak mengisolasi sapi-sapi terjangkit LSD. Jangan malah ditransaksikan di wilayah lain, apalagi dibawa ke pasar hewan.
‘’(Sapi terjangkit LSD, red) isolasi dulu. Laporkan ke kami. Kami akan melakukan penanganan. Laporan para peternak ini, amat penting bagi kami,’’ tandasnya.
Radartuban.jawapos.com– Penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) semakin tak terkendali. Sejak awal muncul pada Januari hingga akhir pekan ini, penyakit ternak yang biasa disebut cacar sapi itu dilaporkan menjangkiti sedikitnya 650 ekor sapi. Tersebar di hampir semua kecamatan se-Kabupaten Tuban.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan pada Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DK P2P) Kabupaten Tuban Pipin Diah Larasati mengemukakan, LSD kian banyak menjangkiti sapi karena penyakit tersebut penularannya sangat cepat.
Melalui sentuhan tangan manusia dan bahan material yang sudah terkontaminasi, hingga gigitan nyamuk, lalat, caplak yang mengisap darah sapi yang terpapar.
Selain itu, penularan LSD kian cepat karena para peternak dirundung cemas. Begitu mengetahui sapinya terpapar LSD, para peternak buru-buru menjual sapinya karena takut sapi tersebut mati dan peternak merugi total.
Akibatnya, LSD dibawa sapi terjual itu menjamah ke lain-lain tempat, menular ke sapi-sapi baru.
- Advertisement -
‘’Jadi, sapi terjangkit LSD jangan dijual. Untuk menekan penularan,’’ tegas Pipin sapaan akrabnya kepada Jawa Pos Radar Tuban kemarin (8/4).
Mantan Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Tuban ini melanjutkan, pihaknya mengimbau kepada peternak mengisolasi sapi-sapi terjangkit LSD. Jangan malah ditransaksikan di wilayah lain, apalagi dibawa ke pasar hewan.
‘’(Sapi terjangkit LSD, red) isolasi dulu. Laporkan ke kami. Kami akan melakukan penanganan. Laporan para peternak ini, amat penting bagi kami,’’ tandasnya.