29 C
Tuban
Friday, 13 February 2026
spot_img
spot_img

Rupiah Tertekan ke Rp 16.836 per USD, Pasar Waspada Inflasi AS dan Arah Suku Bunga

RADARBISNIS – Menjelang libur panjang akhir pekan, laju rupiah kembali tertahan. Tekanan eksternal yang belum mereda membuat pelaku pasar memilih bersikap defensif. Pada penutupan perdagangan Jumat (13/2), rupiah tercatat melemah tipis namun konsisten di tengah sentimen global yang masih rapuh.

Mengacu data Bloomberg yang dikutip dari IDXChannel, nilai tukar rupiah ditutup turun 8 poin atau 0,05 persen ke level Rp 16.836 per dolar AS. Pergerakan ini mencerminkan kehati-hatian pasar menjelang rilis data ekonomi penting Amerika Serikat.

Suku Bunga AS Masih Menjadi Beban Psikologis

Tekanan terhadap rupiah belum lepas dari ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menilai, data ketenagakerjaan terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja Negeri Paman Sam masih cukup solid.

Penguatan dolar AS pun terjadi setelah rilis data penggajian non-pertanian pada pertengahan pekan, yang mendorong greenback bangkit dari titik terendah mingguan.

Electronic money exchangers listing

“Kekuatan pasar tenaga kerja dan inflasi adalah dua pertimbangan terbesar Federal Reserve untuk suku bunga,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pasar global masih harus menunggu sinyal yang lebih tegas dari Federal Reserve terkait waktu dan skala pemangkasan suku bunga.

Data Inflasi AS Jadi Penentu Arah Pasar

Baca Juga :  Tumbuh 7,3 Persen, Realisasi Belanja Negara Tahun 2024 Mencapai Rp 3.350,3 Triliun

Fokus pelaku pasar kini mengarah pada rilis data inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat untuk Januari, yang diumumkan Jumat waktu setempat. Data ini dipandang krusial untuk membaca arah kebijakan moneter ke depan.

Konsensus pasar memperkirakan inflasi utama dan inti akan melandai. Namun, pengalaman beberapa tahun terakhir membuat investor enggan terlalu optimistis. Januari kerap menghadirkan kejutan, dengan angka inflasi yang justru melampaui ekspektasi.

Situasi ini membuat dolar AS bertahan kuat dan secara bersamaan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Geopolitik Timur Tengah Mereda, Tapi Belum Menopang Rupiah

Dari sisi geopolitik, ketegangan di Timur Tengah relatif mereda setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa negosiasi terkait potensi kesepakatan nuklir dengan Iran bisa berlangsung hingga satu bulan.

Prospek dialog yang lebih panjang ini meredam kekhawatiran gangguan pasokan energi dalam waktu dekat, sekaligus menurunkan premi risiko geopolitik global. Namun, sentimen positif tersebut belum cukup kuat untuk mendorong penguatan mata uang emerging market.

Eropa Memanas, Risiko Global Kembali Menguat

Sementara itu, risiko geopolitik kembali mencuat dari kawasan Eropa. Serangan pesawat nirawak Ukraina dilaporkan memicu kebakaran di kilang minyak milik Lukoil dekat Ukhta, Republik Komi, Rusia barat laut.

Baca Juga :  Bank Emas Resmi Diluncurkan, Berpotensi Buka 1,8 Juta Lapangan Kerja Baru

Peristiwa ini kembali mengingatkan pasar bahwa ketidakpastian global belum sepenuhnya sirna. Setiap eskalasi konflik berpotensi menghidupkan kembali permintaan terhadap dolar AS sebagai aset lindung nilai.

Fundamental Domestik Solid, Tapi Tertahan Sentimen Global

Dari dalam negeri, prospek ekonomi Indonesia sejatinya masih terjaga. Pertumbuhan ekonomi 2026 diproyeksikan berada di kisaran 5 persen, di tengah perlambatan ekonomi kawasan Asia dan global.

Namun, sentimen positif tersebut belum mampu mengimbangi tekanan eksternal dalam jangka pendek. Kekhawatiran terhadap keberlanjutan konsumsi swasta serta efektivitas realisasi investasi masih menjadi catatan pelaku pasar.

Dalam jangka menengah, Indonesia dinilai memiliki fondasi kuat, termasuk peluang besar dalam indeks potensi ekspor lintas negara.

Berdasarkan kapasitas manufaktur, tenaga kerja, biaya produksi, hingga ketersediaan energi, Indonesia menempati peringkat lima dunia—tepat di bawah Vietnam—dengan China masih berada di posisi teratas.

Pekan Depan Diproyeksi Masih Berfluktuasi

Dengan kombinasi sentimen global dan domestik tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan masih fluktuatif pada pekan depan. Rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp16.830–Rp16.860 per dolar AS, dengan kecenderungan tetap berada di bawah tekanan.

Menjelang libur panjang, pasar memilih bertahan di zona aman. Rupiah pun kembali harus menunggu momentum global yang lebih kondusif untuk menemukan ruang penguatan. (*)

RADARBISNIS – Menjelang libur panjang akhir pekan, laju rupiah kembali tertahan. Tekanan eksternal yang belum mereda membuat pelaku pasar memilih bersikap defensif. Pada penutupan perdagangan Jumat (13/2), rupiah tercatat melemah tipis namun konsisten di tengah sentimen global yang masih rapuh.

Mengacu data Bloomberg yang dikutip dari IDXChannel, nilai tukar rupiah ditutup turun 8 poin atau 0,05 persen ke level Rp 16.836 per dolar AS. Pergerakan ini mencerminkan kehati-hatian pasar menjelang rilis data ekonomi penting Amerika Serikat.

Suku Bunga AS Masih Menjadi Beban Psikologis

Tekanan terhadap rupiah belum lepas dari ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menilai, data ketenagakerjaan terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja Negeri Paman Sam masih cukup solid.

Penguatan dolar AS pun terjadi setelah rilis data penggajian non-pertanian pada pertengahan pekan, yang mendorong greenback bangkit dari titik terendah mingguan.

- Advertisement -

“Kekuatan pasar tenaga kerja dan inflasi adalah dua pertimbangan terbesar Federal Reserve untuk suku bunga,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pasar global masih harus menunggu sinyal yang lebih tegas dari Federal Reserve terkait waktu dan skala pemangkasan suku bunga.

Electronic money exchangers listing

Data Inflasi AS Jadi Penentu Arah Pasar

Baca Juga :  Kurs Rupiah Melemah, Ancaman Tarif Trump Picu Ketidakpastian Global

Fokus pelaku pasar kini mengarah pada rilis data inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat untuk Januari, yang diumumkan Jumat waktu setempat. Data ini dipandang krusial untuk membaca arah kebijakan moneter ke depan.

Konsensus pasar memperkirakan inflasi utama dan inti akan melandai. Namun, pengalaman beberapa tahun terakhir membuat investor enggan terlalu optimistis. Januari kerap menghadirkan kejutan, dengan angka inflasi yang justru melampaui ekspektasi.

Situasi ini membuat dolar AS bertahan kuat dan secara bersamaan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Geopolitik Timur Tengah Mereda, Tapi Belum Menopang Rupiah

Dari sisi geopolitik, ketegangan di Timur Tengah relatif mereda setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa negosiasi terkait potensi kesepakatan nuklir dengan Iran bisa berlangsung hingga satu bulan.

Prospek dialog yang lebih panjang ini meredam kekhawatiran gangguan pasokan energi dalam waktu dekat, sekaligus menurunkan premi risiko geopolitik global. Namun, sentimen positif tersebut belum cukup kuat untuk mendorong penguatan mata uang emerging market.

Eropa Memanas, Risiko Global Kembali Menguat

Sementara itu, risiko geopolitik kembali mencuat dari kawasan Eropa. Serangan pesawat nirawak Ukraina dilaporkan memicu kebakaran di kilang minyak milik Lukoil dekat Ukhta, Republik Komi, Rusia barat laut.

Baca Juga :  Nilai Tukar Rupiah Sore Ini, Senin 26 Agustus 2024

Peristiwa ini kembali mengingatkan pasar bahwa ketidakpastian global belum sepenuhnya sirna. Setiap eskalasi konflik berpotensi menghidupkan kembali permintaan terhadap dolar AS sebagai aset lindung nilai.

Fundamental Domestik Solid, Tapi Tertahan Sentimen Global

Dari dalam negeri, prospek ekonomi Indonesia sejatinya masih terjaga. Pertumbuhan ekonomi 2026 diproyeksikan berada di kisaran 5 persen, di tengah perlambatan ekonomi kawasan Asia dan global.

Namun, sentimen positif tersebut belum mampu mengimbangi tekanan eksternal dalam jangka pendek. Kekhawatiran terhadap keberlanjutan konsumsi swasta serta efektivitas realisasi investasi masih menjadi catatan pelaku pasar.

Dalam jangka menengah, Indonesia dinilai memiliki fondasi kuat, termasuk peluang besar dalam indeks potensi ekspor lintas negara.

Berdasarkan kapasitas manufaktur, tenaga kerja, biaya produksi, hingga ketersediaan energi, Indonesia menempati peringkat lima dunia—tepat di bawah Vietnam—dengan China masih berada di posisi teratas.

Pekan Depan Diproyeksi Masih Berfluktuasi

Dengan kombinasi sentimen global dan domestik tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan masih fluktuatif pada pekan depan. Rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp16.830–Rp16.860 per dolar AS, dengan kecenderungan tetap berada di bawah tekanan.

Menjelang libur panjang, pasar memilih bertahan di zona aman. Rupiah pun kembali harus menunggu momentum global yang lebih kondusif untuk menemukan ruang penguatan. (*)

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Radarbisnis.com

Ikuti Kami:
Telegram: t.me/radartuban
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Radar Bisnis WhatsApp Channel : https:http://bit.ly/3DonStL. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
spot_img
spot_img

Artikel Terkait

spot_img

Terpopuler

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img
spot_img
/