RADARBISNIS – Kinerja saham teknologi Indonesia sepanjang satu tahun terakhir menunjukkan dua wajah yang kontras.
Di satu sisi, ada emiten yang mencatat lonjakan harga saham ekstrem hingga ribuan persen.
Di sisi lain, ada pula pemain besar yang masih bergulat dengan tekanan pasar.
Data return 1 tahun yang dirilis Stockwise menegaskan satu hal: sektor teknologi bukan ladang rata—melainkan medan seleksi alam bagi emiten yang benar-benar siap.
Lonjakan tertinggi dicatat saham INET dengan return fantastis mencapai 1.156,41 persen.
Angka ini menempatkan INET sebagai bintang paling terang di sektor teknologi nasional dalam periode satu tahun terakhir.
Kenaikan ini jauh meninggalkan emiten teknologi lain, sekaligus menandai betapa agresifnya minat pasar terhadap saham berkapitalisasi relatif kecil dengan sentimen pertumbuhan kuat.
Lonjakan Tajam Saham Lapis Kedua
Di bawah INET, saham WIFI membukukan kenaikan 742 persen. Disusul DCII yang melesat 431 persen dan MLPT dengan return 231 persen.
Pola yang muncul cukup jelas: saham-saham teknologi lapis kedua dan ketiga justru menjadi motor utama reli.
Kondisi ini mencerminkan perubahan selera investor. Pasar tidak lagi sepenuhnya terpaku pada nama besar, melainkan mulai memburu emiten yang dinilai punya prospek ekspansi, efisiensi bisnis, serta peluang pertumbuhan pendapatan yang lebih agresif—meski risikonya juga lebih tinggi.
EMTK masih mampu bertahan di jalur positif dengan kenaikan 102 persen, menunjukkan bahwa grup teknologi-media besar tetap punya daya tarik ketika mampu menjaga fundamental dan narasi bisnis yang konsisten.
Bukalapak Naik, Tapi Masih Tertahan
Berbeda dengan lonjakan ekstrem tadi, saham BUKA mencatat kenaikan yang lebih moderat, yakni 39 persen.
Kinerja ini menunjukkan adanya pemulihan kepercayaan pasar, meski belum cukup kuat untuk disebut reli besar.
Sementara itu, BELI hanya mencatat return 6,22 persen. Angka tipis ini mencerminkan sikap wait and see investor terhadap sektor e-commerce, yang masih dibayangi isu margin, persaingan ketat, dan efisiensi operasional.
GOTO Masih di Zona Merah
Di ujung spektrum, saham GOTO justru menjadi satu-satunya emiten teknologi dalam daftar yang mencatatkan kinerja negatif.
Return minus 18,52 persen menegaskan bahwa tekanan terhadap emiten teknologi berkapitalisasi besar belum sepenuhnya mereda.
Beban profitabilitas, strategi monetisasi jangka panjang, serta ekspektasi pasar yang tinggi membuat pergerakan saham GOTO cenderung tertahan.
Investor tampak lebih selektif dan tidak lagi mudah memberi premi hanya karena skala bisnis besar.
Sinyal Penting bagi Investor
Perbedaan kinerja yang ekstrem ini menjadi sinyal keras bahwa sektor teknologi Indonesia sedang berada dalam fase pemilahan.
Saham dengan cerita pertumbuhan jelas dan eksekusi yang meyakinkan mendapatkan apresiasi besar.
Sebaliknya, emiten yang belum mampu menjawab tuntutan profitabilitas masih harus bersabar menghadapi pasar.
Data Stockwise juga mengingatkan bahwa return tinggi selalu datang beriringan dengan risiko.
Lonjakan ribuan persen bukan tanpa volatilitas, dan koreksi tajam bisa terjadi kapan saja jika sentimen berubah. (*)










