28.1 C
Tuban
Wednesday, 25 February 2026
spot_img
spot_img

Peta Panas Saham Teknologi Indonesia: Lonjakan Ekstrem hingga Tekanan Berat dalam Setahun

RADARBISNIS – Kinerja saham teknologi Indonesia sepanjang satu tahun terakhir menunjukkan dua wajah yang kontras.

Di satu sisi, ada emiten yang mencatat lonjakan harga saham ekstrem hingga ribuan persen.

Di sisi lain, ada pula pemain besar yang masih bergulat dengan tekanan pasar.

Data return 1 tahun yang dirilis Stockwise menegaskan satu hal: sektor teknologi bukan ladang rata—melainkan medan seleksi alam bagi emiten yang benar-benar siap.

Lonjakan tertinggi dicatat saham INET dengan return fantastis mencapai 1.156,41 persen.

Electronic money exchangers listing

Angka ini menempatkan INET sebagai bintang paling terang di sektor teknologi nasional dalam periode satu tahun terakhir.

Kenaikan ini jauh meninggalkan emiten teknologi lain, sekaligus menandai betapa agresifnya minat pasar terhadap saham berkapitalisasi relatif kecil dengan sentimen pertumbuhan kuat.

Lonjakan Tajam Saham Lapis Kedua

Di bawah INET, saham WIFI membukukan kenaikan 742 persen. Disusul DCII yang melesat 431 persen dan MLPT dengan return 231 persen.

Pola yang muncul cukup jelas: saham-saham teknologi lapis kedua dan ketiga justru menjadi motor utama reli.

Baca Juga :  Temui Prabowo, Pengusaha Grup Besar Korea Selatan Bakal Tambah Investasi ke Indonesia

Kondisi ini mencerminkan perubahan selera investor. Pasar tidak lagi sepenuhnya terpaku pada nama besar, melainkan mulai memburu emiten yang dinilai punya prospek ekspansi, efisiensi bisnis, serta peluang pertumbuhan pendapatan yang lebih agresif—meski risikonya juga lebih tinggi.

EMTK masih mampu bertahan di jalur positif dengan kenaikan 102 persen, menunjukkan bahwa grup teknologi-media besar tetap punya daya tarik ketika mampu menjaga fundamental dan narasi bisnis yang konsisten.

Bukalapak Naik, Tapi Masih Tertahan

Berbeda dengan lonjakan ekstrem tadi, saham BUKA mencatat kenaikan yang lebih moderat, yakni 39 persen.

Kinerja ini menunjukkan adanya pemulihan kepercayaan pasar, meski belum cukup kuat untuk disebut reli besar.

Sementara itu, BELI hanya mencatat return 6,22 persen. Angka tipis ini mencerminkan sikap wait and see investor terhadap sektor e-commerce, yang masih dibayangi isu margin, persaingan ketat, dan efisiensi operasional.

Baca Juga :  IHSG Tersengal di Zona Merah, Pasar Masih Ragu Menguat: Kapitalisasi Pasar Tetap Kokoh di Atas Rp 15.000 Triliun!

GOTO Masih di Zona Merah

Di ujung spektrum, saham GOTO justru menjadi satu-satunya emiten teknologi dalam daftar yang mencatatkan kinerja negatif.

Return minus 18,52 persen menegaskan bahwa tekanan terhadap emiten teknologi berkapitalisasi besar belum sepenuhnya mereda.

Beban profitabilitas, strategi monetisasi jangka panjang, serta ekspektasi pasar yang tinggi membuat pergerakan saham GOTO cenderung tertahan.

Investor tampak lebih selektif dan tidak lagi mudah memberi premi hanya karena skala bisnis besar.

Sinyal Penting bagi Investor

Perbedaan kinerja yang ekstrem ini menjadi sinyal keras bahwa sektor teknologi Indonesia sedang berada dalam fase pemilahan.

Saham dengan cerita pertumbuhan jelas dan eksekusi yang meyakinkan mendapatkan apresiasi besar.

Sebaliknya, emiten yang belum mampu menjawab tuntutan profitabilitas masih harus bersabar menghadapi pasar.

Data Stockwise juga mengingatkan bahwa return tinggi selalu datang beriringan dengan risiko.

Lonjakan ribuan persen bukan tanpa volatilitas, dan koreksi tajam bisa terjadi kapan saja jika sentimen berubah. (*)

RADARBISNIS – Kinerja saham teknologi Indonesia sepanjang satu tahun terakhir menunjukkan dua wajah yang kontras.

Di satu sisi, ada emiten yang mencatat lonjakan harga saham ekstrem hingga ribuan persen.

Di sisi lain, ada pula pemain besar yang masih bergulat dengan tekanan pasar.

Data return 1 tahun yang dirilis Stockwise menegaskan satu hal: sektor teknologi bukan ladang rata—melainkan medan seleksi alam bagi emiten yang benar-benar siap.

Lonjakan tertinggi dicatat saham INET dengan return fantastis mencapai 1.156,41 persen.

- Advertisement -

Angka ini menempatkan INET sebagai bintang paling terang di sektor teknologi nasional dalam periode satu tahun terakhir.

Kenaikan ini jauh meninggalkan emiten teknologi lain, sekaligus menandai betapa agresifnya minat pasar terhadap saham berkapitalisasi relatif kecil dengan sentimen pertumbuhan kuat.

Electronic money exchangers listing

Lonjakan Tajam Saham Lapis Kedua

Di bawah INET, saham WIFI membukukan kenaikan 742 persen. Disusul DCII yang melesat 431 persen dan MLPT dengan return 231 persen.

Pola yang muncul cukup jelas: saham-saham teknologi lapis kedua dan ketiga justru menjadi motor utama reli.

Baca Juga :  Temui Prabowo, Pengusaha Grup Besar Korea Selatan Bakal Tambah Investasi ke Indonesia

Kondisi ini mencerminkan perubahan selera investor. Pasar tidak lagi sepenuhnya terpaku pada nama besar, melainkan mulai memburu emiten yang dinilai punya prospek ekspansi, efisiensi bisnis, serta peluang pertumbuhan pendapatan yang lebih agresif—meski risikonya juga lebih tinggi.

EMTK masih mampu bertahan di jalur positif dengan kenaikan 102 persen, menunjukkan bahwa grup teknologi-media besar tetap punya daya tarik ketika mampu menjaga fundamental dan narasi bisnis yang konsisten.

Bukalapak Naik, Tapi Masih Tertahan

Berbeda dengan lonjakan ekstrem tadi, saham BUKA mencatat kenaikan yang lebih moderat, yakni 39 persen.

Kinerja ini menunjukkan adanya pemulihan kepercayaan pasar, meski belum cukup kuat untuk disebut reli besar.

Sementara itu, BELI hanya mencatat return 6,22 persen. Angka tipis ini mencerminkan sikap wait and see investor terhadap sektor e-commerce, yang masih dibayangi isu margin, persaingan ketat, dan efisiensi operasional.

Baca Juga :  Nilai Tukar Rupiah Sore Ini, Selasa 17 September 2024

GOTO Masih di Zona Merah

Di ujung spektrum, saham GOTO justru menjadi satu-satunya emiten teknologi dalam daftar yang mencatatkan kinerja negatif.

Return minus 18,52 persen menegaskan bahwa tekanan terhadap emiten teknologi berkapitalisasi besar belum sepenuhnya mereda.

Beban profitabilitas, strategi monetisasi jangka panjang, serta ekspektasi pasar yang tinggi membuat pergerakan saham GOTO cenderung tertahan.

Investor tampak lebih selektif dan tidak lagi mudah memberi premi hanya karena skala bisnis besar.

Sinyal Penting bagi Investor

Perbedaan kinerja yang ekstrem ini menjadi sinyal keras bahwa sektor teknologi Indonesia sedang berada dalam fase pemilahan.

Saham dengan cerita pertumbuhan jelas dan eksekusi yang meyakinkan mendapatkan apresiasi besar.

Sebaliknya, emiten yang belum mampu menjawab tuntutan profitabilitas masih harus bersabar menghadapi pasar.

Data Stockwise juga mengingatkan bahwa return tinggi selalu datang beriringan dengan risiko.

Lonjakan ribuan persen bukan tanpa volatilitas, dan koreksi tajam bisa terjadi kapan saja jika sentimen berubah. (*)

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Radarbisnis.com

Ikuti Kami:
Telegram: t.me/radartuban
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Radar Bisnis WhatsApp Channel : https:http://bit.ly/3DonStL. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
spot_img
spot_img

Artikel Terkait

spot_img

Terpopuler

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img
spot_img
/