TikTok Shop Ditutup, Wong Tuban Bisa Belanja Online di Aplikasi PenglarisKU Bulan Depan

TUBAN – Platform dagang TikTok Shop telah resmi ditutup sejak Rabu (4/10) lalu.  Penutupan dilakukan guna mematuhi peraturan pemerintah terkait larangan jual-beli di media sosial (medsos).

Berhentinya transaksi di platform ini memberikan dampak bagi pedagang yang selama ini memanfaatkan TikTok Shop. Termasuk di Tuban.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perdagangan (Diskopumdag) Tuban Agus Wijaya menuturkan, penutupan TikTok Shop harus dilihat dari dua sisi. Yakni, sisi pedagang online dan pedagang offline.

Dia menjelaskan, pedagang offline cenderung diuntungkan, namun dalam hal ini pedagang online terdampak kehilangan tempat untuk bertransaksi.

‘’Dua hal ini harus ditanggapi secara bijaksana karena keduanya membawa kebaikan sekaligus terdampak,’’ terangnya.

Baca Juga :  Hasil Seleksi Diumumkan, Berikut Formasi 5 Komisioner Bawaslukab Tuban 2023-2028

Untuk mengatasi dampak penutupan TikTok Shop, pihaknya menawarkan aplikasi PenglarisKU. Sebuah aplikasi e-commerce atau etalase belanja online.

Aplikasi itu telah dikembangkan sejak pandemi Covid-19.

‘’Untuk saat ini (aplikasi PenglarisKU, Red) masih diperbaiki. Insya Allah, satu bulan ke depan bisa digunakan lagi,’’ terang Agus—sapaan akrabnya.

Mantan Kabag Humas Pemkab Tuban itu menjelaskan, persaingan dagang yang begitu terbuka merupakan tantangan bagi Diskopumdag.

Utamanya dari sisi peningkatan pendapatan masyarakat atau dari proses pertumbuhan ekonomi.

Untuk itu, pihaknya akan terus menganalisa sejauh mana pengaru penutupan TikTok Shop di Tuban.

‘’Dengan begitu kami bisa meneruskan kebijakan baru terkait dengan proses transaksi jual beli ini,’’ imbuhnya.

Baca Juga :  Tiga Pelaku Pencurian Pikap di Ponpes Langitan Berhasil Dibekuk

Agus mengatakan, di era yang serba digital ini para pedagang harus mampu beradaptasi.

Dia berharap, seluruh pedagang pasar konvensional yang bertransaksi secara offline bisa beralih ke platform dagang online. Sehingga para pedagang tidak ketinggalan dengan cepatnya perubahan zaman.

‘’Mengubah kebiasaan memang sulit, harus ada proses dan bukti nyata untuk  masyarakat kita,’’ tandasnya. (sel/yud/tok)

TUBAN – Platform dagang TikTok Shop telah resmi ditutup sejak Rabu (4/10) lalu.  Penutupan dilakukan guna mematuhi peraturan pemerintah terkait larangan jual-beli di media sosial (medsos).

Berhentinya transaksi di platform ini memberikan dampak bagi pedagang yang selama ini memanfaatkan TikTok Shop. Termasuk di Tuban.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perdagangan (Diskopumdag) Tuban Agus Wijaya menuturkan, penutupan TikTok Shop harus dilihat dari dua sisi. Yakni, sisi pedagang online dan pedagang offline.

Dia menjelaskan, pedagang offline cenderung diuntungkan, namun dalam hal ini pedagang online terdampak kehilangan tempat untuk bertransaksi.

‘’Dua hal ini harus ditanggapi secara bijaksana karena keduanya membawa kebaikan sekaligus terdampak,’’ terangnya.

- Advertisement -
Baca Juga :  Etalase E-Katalog di Tuban Didominasi Barang Konstruksi, Produk UMKM Masih Minim

Untuk mengatasi dampak penutupan TikTok Shop, pihaknya menawarkan aplikasi PenglarisKU. Sebuah aplikasi e-commerce atau etalase belanja online.

Aplikasi itu telah dikembangkan sejak pandemi Covid-19.

‘’Untuk saat ini (aplikasi PenglarisKU, Red) masih diperbaiki. Insya Allah, satu bulan ke depan bisa digunakan lagi,’’ terang Agus—sapaan akrabnya.

Mantan Kabag Humas Pemkab Tuban itu menjelaskan, persaingan dagang yang begitu terbuka merupakan tantangan bagi Diskopumdag.

Utamanya dari sisi peningkatan pendapatan masyarakat atau dari proses pertumbuhan ekonomi.

Untuk itu, pihaknya akan terus menganalisa sejauh mana pengaru penutupan TikTok Shop di Tuban.

‘’Dengan begitu kami bisa meneruskan kebijakan baru terkait dengan proses transaksi jual beli ini,’’ imbuhnya.

Baca Juga :  Tour de Wali Songo di Tuban Tanpa Muhaimin, Waketum DPP PKB Ida Fauziyah Jawab Alasannya

Agus mengatakan, di era yang serba digital ini para pedagang harus mampu beradaptasi.

Dia berharap, seluruh pedagang pasar konvensional yang bertransaksi secara offline bisa beralih ke platform dagang online. Sehingga para pedagang tidak ketinggalan dengan cepatnya perubahan zaman.

‘’Mengubah kebiasaan memang sulit, harus ada proses dan bukti nyata untuk  masyarakat kita,’’ tandasnya. (sel/yud/tok)

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Radarbisnis.com

Ikuti Kami:
Telegram: t.me/radartuban
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Radar Bisnis WhatsApp Channel : https:http://bit.ly/3DonStL. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru