RADARBISNIS – Peta kekayaan Asia Tenggara 2025 menampilkan satu fakta keras: Indonesia berdiri paling atas.
Daftar Top 10 Orang Terkaya ASEAN 2025 yang dirilis seasia.stats dengan rujukan Forbes Real-Time Billionaires 2025 menempatkan taipan Indonesia sebagai penguasa mutlak papan atas, dengan Prajogo Pangestu memimpin jauh di posisi pertama.
Dengan estimasi kekayaan US$ 41 miliar, Prajogo bukan hanya orang terkaya Indonesia, tetapi juga individu terkaya di Asia Tenggara.
Angka ini mencerminkan daya dorong sektor sumber daya alam, energi, dan industri yang masih menjadi tulang punggung akumulasi modal di kawasan.
Energi dan SDA Masih Jadi Mesin Utama
Di posisi kedua, Low Tuck Kwong mencatatkan kekayaan US$ 24,7 miliar. Bisnis batu bara dan energi kembali menegaskan satu pola lama yang belum tergantikan: komoditas tetap menjadi mesin uang paling stabil di ASEAN.
Sementara itu, peringkat ketiga ditempati Robert Budi Hartono dengan US$ 21,7 miliar, hasil dari diversifikasi panjang di sektor tembakau, perbankan, hingga barang konsumsi.
Model konglomerasi lintas sektor terbukti memberi bantalan kuat saat ekonomi global berfluktuasi.
Tiga Besar ASEAN: Semua dari Indonesia
Fakta paling mencolok: tiga besar orang terkaya ASEAN seluruhnya berasal dari Indonesia.
Ini bukan sekadar statistik, melainkan sinyal kuat bahwa pasar domestik besar, akses sumber daya, dan struktur konglomerasi lokal memberi keunggulan yang belum mampu disaingi negara tetangga.
Nama Michael Hartono di posisi keempat (US$ 20,8 miliar) mempertegas dominasi keluarga bisnis lama yang berhasil beradaptasi dengan sektor keuangan modern.
Vietnam, Thailand, dan Malaysia Tetap Bersaing
Di luar Indonesia, Pham Nhat Vuong (Vietnam) berada di peringkat kelima dengan US$ 19,7 miliar, disusul Dhanin Chearavanont (Thailand) di posisi keenam (US$ 17,2 miliar).
Nama legendaris seperti Robert Kuok (US$ 13,3 miliar) masih bertahan di jajaran atas, bersama Enrique Razon Jr, Li Xiting, dan Dato Sri Tahir yang melengkapi daftar sepuluh besar.
Konsentrasi Kekayaan dan Tantangan Kawasan
Distribusi kekayaan ini menunjukkan satu realitas: kekayaan ASEAN masih sangat terkonsentrasi di puncak, dengan dominasi konglomerat berbasis sumber daya dan pasar domestik besar.
Inovasi teknologi memang tumbuh, tetapi belum cukup kuat menyaingi sektor lama dalam mencetak miliarder.
Bagi Indonesia, dominasi ini adalah peluang sekaligus peringatan. Kekayaan besar memberi daya tawar regional, namun tantangan ke depan adalah memastikan nilai tambah industri dan pemerataan ekonomi tidak tertinggal jauh di belakang akumulasi modal segelintir elite. (*)










