Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mulai membuka babak baru bagi industri kripto nasional. Regulator sektor keuangan itu tengah menyiapkan kerangka regulasi aset kripto berbasis syariah yang ditargetkan terbit tahun ini.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mulai mengencangkan ikat pinggang tata kelola pasar saham. Regulator menargetkan 75 persen emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah memenuhi ketentuan free float minimal 15 persen pada akhir 2026, sebagai upaya memperdalam likuiditas dan memperbaiki kualitas perdagangan saham nasional.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) tancap gas mempercepat reformasi struktural pasar modal nasional.
Target ambisius pencatatan saham baru di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai menghadapi realitas baru. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara terbuka membuka opsi merevisi target Initial Public Offering (IPO) tahun 2026, menyusul volatilitas pasar dan rencana pemberlakuan batas minimum free float sebesar 15 persen.
Pasar modal nasional kembali diguncang. Di tengah kepercayaan investor yang belum sepenuhnya pulih, tiga petinggi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan mundur dari jabatannya. Salah satunya figur sentral: Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar.
Angka 10.000 bukan sekadar target. Ini adalah pesan. Ketika Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melontarkan optimisme Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa menyentuh level itu tahun ini, pasar menangkapnya sebagai sinyal kepercayaan diri negara. Namun di balik nada optimistis tersebut, regulator memilih berdiri dengan kaki lebih menapak.
Siapa sebenarnya pemilik sah Bank Neo Commerce (BBYB)? Pertanyaan itu kembali mencuat setelah struktur kepemilikan emiten bank digital tersebut bergeser. Pergerakan saham di balik meja justru semakin mempertegas satu hal: BBYB sedang memasuki fase konsolidasi para pemilik modal, sementara harga sahamnya berlari kencang di lantai bursa.
Ada jeda napas yang terasa jelas dalam laporan keuangan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) edisi Oktober 2025. Dikutip dari Investor.id, bank dengan kode emiten BBCA itu membukukan laba bersih individual Rp 4,68 triliun.