RADARBISNIS – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Kamis (8/1) di zona merah. Setelah sempat bergerak di area hijau pada awal sesi, indeks kehilangan tenaga dan berakhir turun 19,342 poin atau 0,22 persen ke level 8.925,471. Pasar kembali menunjukkan wajah rapuh: kenaikan cepat, koreksi lebih cepat.
Data RTI Business menyebutkan, sejak pembukaan di level 8.946,700, IHSG sempat menanjak hingga menyentuh titik tertinggi 9.002,920.
Namun, aliran jual yang konsisten sejak siang hari memaksa indeks berbalik arah. Tekanan makin terasa menjelang penutupan, mendorong IHSG turun ke titik terendah harian di 8.918,405 sebelum akhirnya ditutup melemah.
Mayoritas Saham Tertekan, Distribusi Lebih Dominan
Data perdagangan menunjukkan tekanan tidak datang dari satu sisi. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, 370 saham terkoreksi, jauh melampaui 302 saham yang menguat. Sebanyak 138 saham stagnan, mencerminkan pasar yang cenderung defensif.
Aktivitas transaksi terbilang padat. Volume perdagangan mencapai 55,145 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 29,062 triliun dan frekuensi 3,84 juta kali.
Namun tingginya likuiditas tidak serta-merta mengangkat indeks. Pasar lebih sibuk melepas dibanding mengakumulasi.
Kapitalisasi pasar tercatat Rp 16.332,871 triliun, relatif stabil, tetapi arah pergerakan harian mengindikasikan pelaku pasar mulai mengunci keuntungan jangka pendek.
Secara Bulanan Masih Hijau, Harian Mulai Goyah
Dalam perspektif yang lebih panjang, IHSG belum sepenuhnya kehilangan pijakan. Kinerja mingguan masih tumbuh 3,22 persen, sementara secara bulanan menguat 3,39 persen. Bahkan dalam rentang tiga bulan, indeks mencatat kenaikan 9,94 persen dan enam bulan melonjak 29,71 persen.
Namun, penurunan harian ini memberi sinyal penting: momentum kenaikan mulai melambat. Dalam 30 hari terakhir, IHSG mencatat 10 hari penguatan berbanding 9 hari pelemahan, dengan akumulasi bersih naik 2,48 persen. Artinya, pasar masih naik, tetapi dengan napas yang tidak lagi panjang.
Pasar Waspada, Arah Jangka Pendek Belum Tegas
Pola perdagangan Kamis menunjukkan karakter pasar yang sensitif terhadap aksi ambil untung. Setiap kenaikan cepat langsung disambut tekanan jual.
Kondisi ini mengindikasikan pelaku pasar belum sepenuhnya yakin untuk mendorong indeks menembus level psikologis baru secara berkelanjutan.
IHSG memang belum jatuh. Tapi juga belum kuat. Di titik ini, pasar lebih banyak menunggu—menakar risiko, membaca arah dana, dan menjaga jarak dari euforia. (*)










