RADARBISNIS – Peta kekuatan korporasi Asia Tenggara bergeser. Untuk pertama kalinya, perusahaan asal Indonesia berdiri paling tinggi di kawasan, mengungguli raksasa finansial Singapura dan Malaysia.
Berdasarkan data Forbes Global 2000 yang diolah Stockwise dengan pendekatan nilai kapitalisasi pasar, Bank Central Asia (BCA) dinobatkan sebagai perusahaan terbesar di Asia Tenggara, dengan valuasi mencapai USD 75,53 miliar.
Angka ini menempatkan BCA di puncak daftar, tipis namun menentukan. Bank milik grup Djarum itu mengungguli DBS Bank dari Singapura yang berada di posisi kedua dengan valuasi USD 75,27 miliar.
BCA di Puncak, Bukan Sekadar Besar
Kepemimpinan BCA bukan sekadar persoalan angka. Di tengah volatilitas global, tekanan suku bunga, dan ketidakpastian geopolitik, bank swasta terbesar di Indonesia ini menunjukkan konsistensi kinerja, efisiensi operasional, serta kepercayaan pasar yang solid.
Dominasi BCA juga menjadi simbol kekuatan sektor perbankan nasional yang semakin matang, tak lagi sekadar bertahan di pasar domestik, tetapi mulai mendikte ritme kawasan.
Indonesia Mendominasi, Bukan Fenomena Tunggal
Lebih mencolok lagi, enam dari delapan perusahaan terbesar Asia Tenggara dalam daftar ini berasal dari Indonesia.
Sebuah sinyal kuat bahwa ekonomi nasional tak hanya tumbuh dari sisi konsumsi, tetapi juga dari korporasi berkapitalisasi besar.
Selain BCA, deretan perusahaan Indonesia yang masuk jajaran elite regional meliputi:
- Chandra Asri – USD 49,34 miliar
- OCBC Bank – USD 48,26 miliar
- Amman Mineral – USD 46,59 miliar
- Bank Rakyat Indonesia – USD 46,50 miliar
- Bayan Resources – USD 39,59 miliar
- Bank Mandiri – USD 38,08 miliar
Kehadiran bank, tambang, dan petrokimia sekaligus menunjukkan struktur ekonomi Indonesia yang relatif seimbang antara sektor finansial dan sumber daya alam.
Singapura dan Malaysia Mulai Terdesak
Fakta bahwa hanya dua perusahaan non-Indonesia yang mampu menembus delapan besar menandakan tekanan serius bagi pusat keuangan tradisional Asia Tenggara.
Singapura masih kuat, namun tidak lagi dominan mutlak. Malaysia bahkan tak muncul di papan atas.
Ini bukan kekalahan instan, melainkan sinyal pergeseran jangka panjang: skala ekonomi Indonesia yang besar kini mulai terkonversi menjadi kekuatan korporasi regional.
Makna Strategis bagi Ekonomi Nasional
Bagi Indonesia, capaian ini lebih dari sekadar kebanggaan. Dominasi perusahaan besar berarti:
– Daya tahan ekonomi yang lebih kuat saat krisis global
– Akses pendanaan internasional yang lebih luas
– Posisi tawar yang meningkat di pasar regional
Namun tantangannya jelas: menjaga tata kelola, transparansi, dan keberlanjutan agar keunggulan ini tidak bersifat sesaat.
Indonesia sudah memimpin. Pertanyaannya kini, mampukah mempertahankan? (*)










