27.3 C
Tuban
Monday, 23 February 2026
spot_img
spot_img

Bukan Sekadar Anak Sultan, Inilah Gen Z Terkaya Dunia Penggerak Bisnis Global Berharta Puluhan Triliun

RADARBISNIS — Dunia bisnis global memasuki babak baru. Bukan lagi didominasi wajah-wajah senior berambut perak, daftar orang terkaya kini dipenuhi nama-nama Generasi Z—usia 20-an, kekayaan puluhan hingga ratusan triliun rupiah.

Namun satu hal perlu ditegaskan sejak awal: kekayaan ini lahir dari dua jalur berbeda—warisan konglomerasi lama dan bisnis teknologi masa depan.

Data Forbes yang dikutip dari SahamTalk menempatkan mereka sebagai Gen Z terkaya di dunia, lahir pada rentang 1997–2012.

Nilainya bukan sekadar angka di laporan keuangan, tetapi cermin peta kekuatan ekonomi global hari ini.

Warisan Raksasa Industri: Modal Awal yang Tak Semua Orang Punya

Electronic money exchangers listing

Nama Zahan Mistry dan Firoz Mistry berada di papan atas daftar ini. Keduanya adalah ahli waris Tata Group, konglomerasi India yang merentang dari otomotif, baja, teknologi, hingga energi.

Melalui portofolio Tata—termasuk Jaguar Land Rover—kekayaan masing-masing diperkirakan Rp 79 triliun.

Usia masih pertengahan 20-an, tetapi aset mereka sudah menembus batas generasi.

Pola serupa terlihat pada Clemente Del Vecchio dan Luca Del Vecchio, pewaris EssilorLuxottica, raksasa kacamata global yang menaungi merek seperti Ray-Ban dan Oakley.

Baca Juga :  Hasil Kunker Prabowo ke Luar Negeri Bawa Komitmen Investasi US$ 18,5 Miliar

Di industri yang tampak sederhana—kacamata—tersimpan kekuatan manufaktur, lisensi merek, dan jaringan distribusi dunia. Nilai kekayaan masing-masing sekitar Rp 76 triliun.

Di Jerman, Kevin David Lehmann menjadi bukti bahwa ritel kebutuhan sehari-hari bisa melahirkan miliarder muda.

Pemuda 22 tahun itu adalah pemegang saham utama dm-drogerie markt, jaringan ritel kesehatan dan kosmetik terbesar di negara itu. Kekayaannya ditaksir Rp 54,3 triliun.

Teknologi dan AI: Jalan Pintas atau Jalan Paling Berisiko

Berbeda dari pewaris konglomerasi, Alexandr Wang membangun kekayaannya dari nol. Ia adalah pendiri Scale AI, perusahaan penyedia data pelatihan kecerdasan buatan yang kliennya mencakup perusahaan teknologi besar hingga militer Amerika Serikat.

Di usia 27 tahun, Wang mengantongi sekitar Rp 31 triliun—simbol bahwa AI kini setara minyak dan baja dalam menentukan arah ekonomi dunia.

Sementara itu, Remi Dassault mewarisi kekuatan industri strategis Prancis melalui Dassault Group.

Grup ini bergerak di pesawat tempur Rafale, software desain, hingga media.

Kekayaannya sekitar Rp 35,7 triliun, dengan bisnis yang erat kaitannya dengan geopolitik dan pertahanan negara.

Baca Juga :  Awal Pekan, IHSG Turun 0,25 Persen ke Posisi 7.702,74

Game Online dan Motor Listrik: Bisnis yang Dianggap Mainan, Ternyata Mesin Uang

Asia Timur tak ketinggalan. Kim Jung-youn dan Kim Jung-min adalah pewaris Nexon, raksasa game online yang melahirkan MapleStory dan KartRider.

Industri gim—yang kerap diremehkan—justru menjadi ladang emas digital, mengantarkan masing-masing kekayaan sekitar Rp 26,4 triliun.

Dari Brasil, Livia Voigt muncul sebagai wajah muda industri berat. Ia memegang saham besar di WEG, produsen motor listrik dan transformator yang produknya tersebar di berbagai benua. Kekayaannya ditaksir Rp 20,2 triliun.

Gen Z Kaya, Tapi Bukan Cerita yang Sama

Daftar ini menyimpan ironi. Sebagian Gen Z membangun kerajaan bisnis dari ide dan teknologi, sementara sebagian lain lahir di tengah peta kekayaan yang sudah jadi.

Namun satu benang merah tak bisa dibantah: pusat kekayaan dunia sedang bergeser—ke teknologi, industri strategis, energi, dan hiburan digital.

Bagi generasi muda lainnya, kisah ini bukan sekadar soal iri atau kagum. Ini pengingat keras bahwa akses modal, struktur ekonomi global, dan timing sejarah sering kali lebih menentukan daripada sekadar kerja keras individual. (*)

RADARBISNIS — Dunia bisnis global memasuki babak baru. Bukan lagi didominasi wajah-wajah senior berambut perak, daftar orang terkaya kini dipenuhi nama-nama Generasi Z—usia 20-an, kekayaan puluhan hingga ratusan triliun rupiah.

Namun satu hal perlu ditegaskan sejak awal: kekayaan ini lahir dari dua jalur berbeda—warisan konglomerasi lama dan bisnis teknologi masa depan.

Data Forbes yang dikutip dari SahamTalk menempatkan mereka sebagai Gen Z terkaya di dunia, lahir pada rentang 1997–2012.

Nilainya bukan sekadar angka di laporan keuangan, tetapi cermin peta kekuatan ekonomi global hari ini.

Warisan Raksasa Industri: Modal Awal yang Tak Semua Orang Punya

- Advertisement -

Nama Zahan Mistry dan Firoz Mistry berada di papan atas daftar ini. Keduanya adalah ahli waris Tata Group, konglomerasi India yang merentang dari otomotif, baja, teknologi, hingga energi.

Melalui portofolio Tata—termasuk Jaguar Land Rover—kekayaan masing-masing diperkirakan Rp 79 triliun.

Electronic money exchangers listing

Usia masih pertengahan 20-an, tetapi aset mereka sudah menembus batas generasi.

Pola serupa terlihat pada Clemente Del Vecchio dan Luca Del Vecchio, pewaris EssilorLuxottica, raksasa kacamata global yang menaungi merek seperti Ray-Ban dan Oakley.

Baca Juga :  IHSG Tergelincir di Akhir Perdagangan, Tekanan Jual Menutup Optimisme Awal Sesi

Di industri yang tampak sederhana—kacamata—tersimpan kekuatan manufaktur, lisensi merek, dan jaringan distribusi dunia. Nilai kekayaan masing-masing sekitar Rp 76 triliun.

Di Jerman, Kevin David Lehmann menjadi bukti bahwa ritel kebutuhan sehari-hari bisa melahirkan miliarder muda.

Pemuda 22 tahun itu adalah pemegang saham utama dm-drogerie markt, jaringan ritel kesehatan dan kosmetik terbesar di negara itu. Kekayaannya ditaksir Rp 54,3 triliun.

Teknologi dan AI: Jalan Pintas atau Jalan Paling Berisiko

Berbeda dari pewaris konglomerasi, Alexandr Wang membangun kekayaannya dari nol. Ia adalah pendiri Scale AI, perusahaan penyedia data pelatihan kecerdasan buatan yang kliennya mencakup perusahaan teknologi besar hingga militer Amerika Serikat.

Di usia 27 tahun, Wang mengantongi sekitar Rp 31 triliun—simbol bahwa AI kini setara minyak dan baja dalam menentukan arah ekonomi dunia.

Sementara itu, Remi Dassault mewarisi kekuatan industri strategis Prancis melalui Dassault Group.

Grup ini bergerak di pesawat tempur Rafale, software desain, hingga media.

Kekayaannya sekitar Rp 35,7 triliun, dengan bisnis yang erat kaitannya dengan geopolitik dan pertahanan negara.

Baca Juga :  Harga Emas Antam Naik Lagi, Pasar Domestik Menguat di Tengah Tren Fluktuatif Global

Game Online dan Motor Listrik: Bisnis yang Dianggap Mainan, Ternyata Mesin Uang

Asia Timur tak ketinggalan. Kim Jung-youn dan Kim Jung-min adalah pewaris Nexon, raksasa game online yang melahirkan MapleStory dan KartRider.

Industri gim—yang kerap diremehkan—justru menjadi ladang emas digital, mengantarkan masing-masing kekayaan sekitar Rp 26,4 triliun.

Dari Brasil, Livia Voigt muncul sebagai wajah muda industri berat. Ia memegang saham besar di WEG, produsen motor listrik dan transformator yang produknya tersebar di berbagai benua. Kekayaannya ditaksir Rp 20,2 triliun.

Gen Z Kaya, Tapi Bukan Cerita yang Sama

Daftar ini menyimpan ironi. Sebagian Gen Z membangun kerajaan bisnis dari ide dan teknologi, sementara sebagian lain lahir di tengah peta kekayaan yang sudah jadi.

Namun satu benang merah tak bisa dibantah: pusat kekayaan dunia sedang bergeser—ke teknologi, industri strategis, energi, dan hiburan digital.

Bagi generasi muda lainnya, kisah ini bukan sekadar soal iri atau kagum. Ini pengingat keras bahwa akses modal, struktur ekonomi global, dan timing sejarah sering kali lebih menentukan daripada sekadar kerja keras individual. (*)

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Radarbisnis.com

Ikuti Kami:
Telegram: t.me/radartuban
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Radar Bisnis WhatsApp Channel : https:http://bit.ly/3DonStL. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
spot_img
spot_img

Artikel Terkait

spot_img

Terpopuler

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img
spot_img
/