RADARBISNIS – Peta persaingan industri laptop global kembali menegaskan satu fakta lama: pasar ini masih dikuasai segelintir raksasa.
Data terbaru dari seasia.stats menempatkan Lenovo sebagai merek laptop terlaris dunia dengan penjualan tahunan sekitar 48,5 juta unit.
Angka ini bukan sekadar unggul—melainkan meninggalkan jarak yang cukup lebar dengan para pesaingnya.
Dominasi Lenovo dibangun lewat strategi lintas segmen. Dari pasar konsumen, korporasi, hingga pendidikan, merek asal Tiongkok ini bermain rapi dan konsisten.
Hasilnya, Lenovo seolah berlari sendirian di depan, sementara kompetitor sibuk saling sikut di belakang.
HP dan Dell: Kuat, tapi Belum Cukup
Di posisi kedua, HP mencatat penjualan sekitar 39 juta unit per tahun. Portofolio produk yang luas—dari laptop terjangkau hingga kelas enterprise—menjadi senjata utama HP menjaga napas persaingan.
Sementara itu, Dell berada di peringkat ketiga dengan 28,5 juta unit.
Kekuatan Dell masih bertumpu pada pasar korporasi, reputasi keandalan perangkat, dan layanan purna jual.
Namun, secara volume, Dell belum mampu memutus jarak dengan dua besar.
Apple dan Merek Asia Timur Menguntit
Masuk peringkat keempat, Apple membukukan sekitar 23,5 juta unit penjualan laptop.
Meski tak bermain di volume massal, Apple tetap relevan berkat ekosistem dan loyalitas pengguna yang kuat.
Di bawahnya, nama-nama Asia Timur saling berimpitan. ASUS (15,5 juta unit) dan Acer (14 juta unit) menegaskan Taiwan masih menjadi poros penting industri laptop dunia, terutama di segmen konsumen dan pendidikan.
Spesialisasi Jadi Jalan Bertahan
Menariknya, penurunan volume terlihat tajam setelah enam besar.
MSI hanya menjual sekitar 3 juta unit, disusul Samsung dan Microsoft yang sama-sama di kisaran 2,5 juta unit. Huawei menutup daftar dengan 2 juta unit.
Namun, angka kecil bukan berarti tanpa pengaruh. MSI tetap dominan di ceruk gaming dan Samsung bermain di ekosistem perangkat.
Sementara, Microsoft mengandalkan integrasi software-hardware dan Huawei masih berjuang di tengah tekanan geopolitik global.
Pasar Padat, Ruang Gerak Menyempit
Data seasia.stats menunjukkan pasar laptop global semakin padat di pucuk, tapi rapuh di lapisan bawah.
Beberapa merek besar masih mendikte arah inovasi, harga, dan desain, sementara pemain lain dipaksa bertahan lewat spesialisasi.
Kesimpulannya tegas: industri laptop dunia belum benar-benar berubah wajah. Nama-nama lama masih memegang kendali.
Dan, untuk menembus dominasi itu, dibutuhkan lebih dari sekadar produk baru—perlu strategi panjang, keberanian investasi, dan momentum global yang tepat. (*)










