RADARBISNIS – Amerika Serikat menyematkan label “bersejarah” pada kesepakatan dagang terbarunya dengan Indonesia.
Perjanjian tersebut diteken langsung oleh Presiden Donald Trump bersama Presiden Prabowo Subianto di Washington DC, 19 Februari lalu.
Bagi Washington, ini bukan sekadar seremoni diplomatik. Lewat kantor United States Trade Representative (USTR)-seperti dilansir dari CNBC Indonesia, AS mengklaim telah mengamankan—atau “mengunci”—komitmen investasi dari Indonesia senilai USD 33 miliar atau setara Rp 555,69 triliun.
Energi, Pesawat, Hingga Pangan Jadi Tulang Punggung
USTR menyebut nilai tersebut berasal dari serangkaian pembelian strategis Indonesia, mulai dari sektor energi, produk kedirgantaraan, hingga hasil pertanian.
Pemerintah AS menilai kesepakatan ini membuka peluang konkret bagi petani, peternak, dan produsen manufaktur Amerika yang selama ini menghadapi keterbatasan akses ke pasar Indonesia.
Dalam kacamata Washington, Indonesia bukan pasar kecil. Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, RI diposisikan sebagai salah satu tujuan ekspor paling menjanjikan di kawasan Asia.
99 Persen Produk AS Bebas Hambatan Tarif
Trump juga mengumumkan langkah agresif lainnya: penghapusan hambatan tarif pada lebih dari 99 persen produk AS yang masuk ke Indonesia.
Kebijakan ini secara langsung memangkas biaya masuk dan mempercepat arus barang Amerika ke pasar domestik RI.
Bagi eksportir Negeri Paman Sam, keputusan ini ibarat pintu yang dibuka lebar. Tak heran jika respons positif langsung mengalir dari berbagai sektor industri.
Peternak Susu hingga Eksportir Daging Sambut Antusias
Presiden dan CEO Federasi Produsen Susu Nasional AS, Gregg Doud, menyebut akses baru ini berpotensi kuat mendongkrak permintaan produk susu Amerika di Indonesia.
Optimisme serupa datang dari sektor protein hewani. CEO Federasi Ekspor Daging AS, Dan Halstrom, bahkan memproyeksikan nilai ekspor daging ke Indonesia bisa menembus USD 400–500 juta dalam waktu dekat.
Halstrom juga menilai hambatan izin impor yang sebelumnya membatasi pergerakan produk kini sudah jauh berkurang.
Energi Terbarukan dan Digital Ikut Kecipratan
Dari sektor energi, CEO Growth Energy Emily Skor menilai pasar etanol Indonesia menyimpan potensi besar, dengan estimasi permintaan bisa mencapai 900 juta galon.
Angka ini menempatkan Indonesia sebagai target penting dalam ekspansi energi terbarukan AS di Asia Tenggara.
Sementara itu, Business Software Alliance menyebut perjanjian ini sebagai terobosan besar dalam perdagangan digital global, membuka peluang lebih luas bagi perusahaan teknologi dan perangkat lunak Amerika.
Catatan Kritis: Indonesia Perlu Hitung Untung-Rugi
Di balik euforia AS, kesepakatan ini tetap menyisakan pekerjaan rumah bagi Indonesia.
Arus masuk produk AS yang semakin deras menuntut kesiapan industri nasional agar tidak sekadar menjadi pasar, melainkan juga pemain yang mampu bersaing.
Kesepakatan besar memang menjanjikan pertumbuhan. Namun, tanpa strategi perlindungan dan penguatan sektor domestik, keuntungan jangka panjang bisa timpang. (*)










