27.3 C
Tuban
Wednesday, 25 February 2026
spot_img
spot_img

Presiden Trump Buka Lebar Pasar Indonesia untuk Produk AS, USTR Klaim Amankan Komitmen Investasi USD 33 miliar

RADARBISNIS – Amerika Serikat menyematkan label “bersejarah” pada kesepakatan dagang terbarunya dengan Indonesia.

Perjanjian tersebut diteken langsung oleh Presiden Donald Trump bersama Presiden Prabowo Subianto di Washington DC, 19 Februari lalu.

Bagi Washington, ini bukan sekadar seremoni diplomatik. Lewat kantor United States Trade Representative (USTR)-seperti dilansir dari CNBC Indonesia, AS mengklaim telah mengamankan—atau “mengunci”—komitmen investasi dari Indonesia senilai USD 33 miliar atau setara Rp 555,69 triliun.

Energi, Pesawat, Hingga Pangan Jadi Tulang Punggung

USTR menyebut nilai tersebut berasal dari serangkaian pembelian strategis Indonesia, mulai dari sektor energi, produk kedirgantaraan, hingga hasil pertanian.

Electronic money exchangers listing

Pemerintah AS menilai kesepakatan ini membuka peluang konkret bagi petani, peternak, dan produsen manufaktur Amerika yang selama ini menghadapi keterbatasan akses ke pasar Indonesia.

Dalam kacamata Washington, Indonesia bukan pasar kecil. Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, RI diposisikan sebagai salah satu tujuan ekspor paling menjanjikan di kawasan Asia.

Baca Juga :  Harga Emas Antam, UBS, dan Galeri 24 Kompak Gaspol - Ini Daftar Harga Terbaru di Pegadaian!

99 Persen Produk AS Bebas Hambatan Tarif

Trump juga mengumumkan langkah agresif lainnya: penghapusan hambatan tarif pada lebih dari 99 persen produk AS yang masuk ke Indonesia.

Kebijakan ini secara langsung memangkas biaya masuk dan mempercepat arus barang Amerika ke pasar domestik RI.

Bagi eksportir Negeri Paman Sam, keputusan ini ibarat pintu yang dibuka lebar. Tak heran jika respons positif langsung mengalir dari berbagai sektor industri.

Peternak Susu hingga Eksportir Daging Sambut Antusias

Presiden dan CEO Federasi Produsen Susu Nasional AS, Gregg Doud, menyebut akses baru ini berpotensi kuat mendongkrak permintaan produk susu Amerika di Indonesia.

Optimisme serupa datang dari sektor protein hewani. CEO Federasi Ekspor Daging AS, Dan Halstrom, bahkan memproyeksikan nilai ekspor daging ke Indonesia bisa menembus USD 400–500 juta dalam waktu dekat.

Halstrom juga menilai hambatan izin impor yang sebelumnya membatasi pergerakan produk kini sudah jauh berkurang.

Baca Juga :  Inilah 10 Saham dengan Kapitalisasi Terbesar di Bursa Efek Indonesia, Teryata Ada 3 Milik BUMN

Energi Terbarukan dan Digital Ikut Kecipratan

Dari sektor energi, CEO Growth Energy Emily Skor menilai pasar etanol Indonesia menyimpan potensi besar, dengan estimasi permintaan bisa mencapai 900 juta galon.

Angka ini menempatkan Indonesia sebagai target penting dalam ekspansi energi terbarukan AS di Asia Tenggara.

Sementara itu, Business Software Alliance menyebut perjanjian ini sebagai terobosan besar dalam perdagangan digital global, membuka peluang lebih luas bagi perusahaan teknologi dan perangkat lunak Amerika.

Catatan Kritis: Indonesia Perlu Hitung Untung-Rugi

Di balik euforia AS, kesepakatan ini tetap menyisakan pekerjaan rumah bagi Indonesia.

Arus masuk produk AS yang semakin deras menuntut kesiapan industri nasional agar tidak sekadar menjadi pasar, melainkan juga pemain yang mampu bersaing.

Kesepakatan besar memang menjanjikan pertumbuhan. Namun, tanpa strategi perlindungan dan penguatan sektor domestik, keuntungan jangka panjang bisa timpang. (*)

RADARBISNIS – Amerika Serikat menyematkan label “bersejarah” pada kesepakatan dagang terbarunya dengan Indonesia.

Perjanjian tersebut diteken langsung oleh Presiden Donald Trump bersama Presiden Prabowo Subianto di Washington DC, 19 Februari lalu.

Bagi Washington, ini bukan sekadar seremoni diplomatik. Lewat kantor United States Trade Representative (USTR)-seperti dilansir dari CNBC Indonesia, AS mengklaim telah mengamankan—atau “mengunci”—komitmen investasi dari Indonesia senilai USD 33 miliar atau setara Rp 555,69 triliun.

Energi, Pesawat, Hingga Pangan Jadi Tulang Punggung

USTR menyebut nilai tersebut berasal dari serangkaian pembelian strategis Indonesia, mulai dari sektor energi, produk kedirgantaraan, hingga hasil pertanian.

- Advertisement -

Pemerintah AS menilai kesepakatan ini membuka peluang konkret bagi petani, peternak, dan produsen manufaktur Amerika yang selama ini menghadapi keterbatasan akses ke pasar Indonesia.

Dalam kacamata Washington, Indonesia bukan pasar kecil. Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, RI diposisikan sebagai salah satu tujuan ekspor paling menjanjikan di kawasan Asia.

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  Australia Dukung Indonesia Gabung OECD dan CPTPP

99 Persen Produk AS Bebas Hambatan Tarif

Trump juga mengumumkan langkah agresif lainnya: penghapusan hambatan tarif pada lebih dari 99 persen produk AS yang masuk ke Indonesia.

Kebijakan ini secara langsung memangkas biaya masuk dan mempercepat arus barang Amerika ke pasar domestik RI.

Bagi eksportir Negeri Paman Sam, keputusan ini ibarat pintu yang dibuka lebar. Tak heran jika respons positif langsung mengalir dari berbagai sektor industri.

Peternak Susu hingga Eksportir Daging Sambut Antusias

Presiden dan CEO Federasi Produsen Susu Nasional AS, Gregg Doud, menyebut akses baru ini berpotensi kuat mendongkrak permintaan produk susu Amerika di Indonesia.

Optimisme serupa datang dari sektor protein hewani. CEO Federasi Ekspor Daging AS, Dan Halstrom, bahkan memproyeksikan nilai ekspor daging ke Indonesia bisa menembus USD 400–500 juta dalam waktu dekat.

Halstrom juga menilai hambatan izin impor yang sebelumnya membatasi pergerakan produk kini sudah jauh berkurang.

Baca Juga :  Nilai Tukar Rupiah Sore Ini, Rabu 11 September 2024

Energi Terbarukan dan Digital Ikut Kecipratan

Dari sektor energi, CEO Growth Energy Emily Skor menilai pasar etanol Indonesia menyimpan potensi besar, dengan estimasi permintaan bisa mencapai 900 juta galon.

Angka ini menempatkan Indonesia sebagai target penting dalam ekspansi energi terbarukan AS di Asia Tenggara.

Sementara itu, Business Software Alliance menyebut perjanjian ini sebagai terobosan besar dalam perdagangan digital global, membuka peluang lebih luas bagi perusahaan teknologi dan perangkat lunak Amerika.

Catatan Kritis: Indonesia Perlu Hitung Untung-Rugi

Di balik euforia AS, kesepakatan ini tetap menyisakan pekerjaan rumah bagi Indonesia.

Arus masuk produk AS yang semakin deras menuntut kesiapan industri nasional agar tidak sekadar menjadi pasar, melainkan juga pemain yang mampu bersaing.

Kesepakatan besar memang menjanjikan pertumbuhan. Namun, tanpa strategi perlindungan dan penguatan sektor domestik, keuntungan jangka panjang bisa timpang. (*)

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Radarbisnis.com

Ikuti Kami:
Telegram: t.me/radartuban
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Radar Bisnis WhatsApp Channel : https:http://bit.ly/3DonStL. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
spot_img
spot_img

Artikel Terkait

spot_img

Terpopuler

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img
spot_img
/