RADARBISNIS — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tergelincir pada perdagangan awal pekan, Senin (7/7), seiring meningkatnya tensi geopolitik dan tekanan dari kebijakan perdagangan Presiden Donald Trump terhadap negara-negara BRICS.
Rupiah ditutup melemah 54,5 poin atau 0,34% ke posisi Rp 16.239 per dolar AS, setelah sempat menguat tipis ke Rp 16.185 pada Jumat pekan lalu.
Sementara itu, indeks dolar AS tercatat menguat 0,16% menjadi 97,33, mencerminkan kepercayaan pasar terhadap greenback di tengah gejolak global.
Pelemahan nilai tukar rupiah tak lepas dari pernyataan keras Presiden AS Donald Trump yang mengumumkan rencana penerapan tarif tambahan 10% hingga 70% pada sejumlah negara, terutama yang berpihak pada blok ekonomi BRICS.
“Trump menyebut bahwa negara-negara yang dinilai anti-Amerika akan menghadapi tarif tambahan atas praktik dagang mereka,” ujar Ibrahim Assuaibi, analis mata uang senior dikutip dari investor.id, Senin (7/7).
Trump menyampaikan bahwa tarif-tarif tersebut akan mulai diberlakukan 1 Agustus 2025, sementara surat pemberitahuan ke negara-negara terkait diklaim mulai dikirim sejak Jumat lalu.
Langkah agresif ini memperkuat kekhawatiran pasar global terhadap arah kebijakan perdagangan AS yang semakin proteksionis, memicu tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain tekanan eksternal, penguatan dolar juga disokong oleh data ketenagakerjaan AS yang solid. Hal ini membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) mulai surut.
“Pasar mulai menghapus taruhan pemangkasan suku bunga pada Juli dan bahkan memperkecil kemungkinan pemangkasan pada September,” jelas Ibrahim.
Pasar saat ini menanti rilis risalah FOMC (Federal Open Market Committee) pada Rabu, 9 Juli 2025, sebagai petunjuk arah kebijakan moneter AS ke depan.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia mencatat cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2025 mencapai US$ 152,6 miliar, naik tipis dari US$ 152,5 miliar di Mei 2025.
Kenaikan ini didorong oleh penerimaan pajak, jasa, dan penerbitan global bond pemerintah. Meski demikian, cadangan devisa belum cukup kuat untuk menahan tekanan eksternal yang semakin deras.
“BI tetap menjalankan kebijakan stabilisasi untuk menjaga nilai tukar tetap kondusif,” kata Ibrahim.
Untuk perdagangan Selasa (8/7), rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif di kisaran Rp 16.230 hingga Rp 16.280 per dolar AS, bergantung pada dinamika global serta respons pelaku pasar terhadap perkembangan kebijakan tarif AS. (*)