RADARBISNIS – Struktur kepemilikan saham bank swasta terbesar di Indonesia kembali menjadi sorotan. Data terbaru menunjukkan bahwa hanya segelintir pihak yang benar-benar menguasai porsi signifikan saham BBCA milik Bank Central Asia.
Berdasarkan data kepemilikan saham di atas 1 persen yang dirilis Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), tercatat hanya empat pihak yang memiliki porsi saham BBCA di atas ambang tersebut.
Informasi tersebut dihimpun oleh media pasar modal EmitenNews berdasarkan data per 27 Februari 2026.
Komposisi ini sekaligus menggambarkan bagaimana kepemilikan bank dengan kapitalisasi pasar raksasa tersebut terkonsentrasi pada kelompok investor tertentu.
Djarum Group Masih Jadi Pengendali Mutlak
Di puncak daftar pemegang saham terbesar BBCA masih ditempati oleh PT Dwimuria Investama Andalan, perusahaan investasi milik keluarga Hartono yang menjadi kendaraan utama kelompok Djarum.
Perusahaan ini menguasai sekitar 67.729.950.000 lembar saham atau setara 54,94 persen dari total saham beredar.
Dominasi ini membuat posisi pengendali bank tersebut tetap berada di tangan kelompok usaha yang telah memegang kendali sejak proses restrukturisasi perbankan pascakrisis 1998.
Kekuatan mayoritas di atas 50 persen itu juga berarti pengaruh strategis terhadap arah bisnis, kebijakan manajemen, hingga keputusan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Tiga Investor Lain Punya Porsi Lebih dari 1 Persen
Selain PT Dwimuria Investama Andalan, hanya ada tiga pihak lain yang tercatat memiliki saham BBCA lebih dari 1 persen.
Mereka adalah:
1. Anthoni Salim dengan kepemilikan sekitar 1.416.306.835 lembar saham atau 1,15 persen.
2. PT Tricipta Mandhala Gumilang dengan sekitar 1.313.250.000 lembar saham atau 1,07 persen.
3. PT Caturguwiratna Sumapala dengan sekitar 1.261.750.000 lembar saham atau 1,02 persen
Di luar empat pemegang saham tersebut, kepemilikan saham BBCA tersebar pada investor institusi global, manajer investasi, hingga investor ritel domestik.
Saham Blue Chip dengan Kapitalisasi Raksasa
Sebagai salah satu saham blue chip utama di Bursa Efek Indonesia, BBCA dikenal memiliki basis investor yang sangat luas.
Likuiditas tinggi dan fundamental kuat membuat saham ini menjadi salah satu favorit investor domestik maupun asing.
Namun struktur kepemilikan di atas menunjukkan bahwa kendali strategis tetap berada pada kelompok pengendali utama.
Bagi investor pasar modal, komposisi ini penting karena mencerminkan dua hal sekaligus: stabilitas pengendalian perusahaan dan karakter saham yang sebagian besar diperdagangkan di pasar sekunder.
Cerminan Struktur Korporasi di Bursa
Fenomena kepemilikan yang terkonsentrasi seperti ini bukan hal yang aneh di pasar modal Indonesia.
Banyak perusahaan besar masih memiliki pengendali dominan yang memegang porsi saham mayoritas.
Dalam kasus BBCA, dominasi PT Dwimuria Investama Andalan menegaskan bahwa meskipun sahamnya aktif diperdagangkan dan dimiliki jutaan investor, kendali utama perusahaan tetap berada di satu kelompok usaha.
Bagi pelaku pasar, transparansi data dari KSEI menjadi kunci untuk membaca peta kekuatan di balik emiten-emiten besar yang menjadi tulang punggung pergerakan indeks di Bursa Efek Indonesia. (*)










