26.6 C
Tuban
Friday, 23 January 2026
spot_img
spot_img

Minyak Global Turun ke Level Terendah Sepekan Usai Ancaman Trump Soal Greenland Mereda

RADARBISNIS – Pasar minyak dunia kembali kehilangan pijakan. Dalam satu sesi perdagangan, harga terperosok tajam, mencerminkan betapa rapuhnya sentimen energi global ketika tensi geopolitik mulai melunak.

Pada Kamis (22/1), harga minyak dunia turun sekitar dua persen dan menyentuh level terendah dalam sepekan.

Pelemahan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melunakkan nada kerasnya terkait Greenland dan Iran.

Bersamaan dengan munculnya sinyal positif yang membuka peluang berakhirnya perang Rusia–Ukraina.

Tekanan Datang dari Politik Global

Electronic money exchangers listing

Minyak mentah Brent ditutup melemah 1,8 persen ke level USD 64,06 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat merosot lebih dalam, turun 2,1 persen ke USD 59,36 per barel—harga terendah dalam sepekan terakhir.

Menurut laporan Reuters dilansir dari IDX Channel, pernyataan Trump menjadi salah satu pemicu utama perubahan arah pasar.

Baca Juga :  Akhir Pekan, IHSG Melanjutkan Penguatan Naik 0,53 Persen ke Posisi 7.721,85

Presiden AS itu menyebut Washington telah mengamankan akses penuh dan permanen ke Greenland melalui kesepakatan dengan NATO.

Bagi pelaku pasar, pernyataan tersebut dibaca sebagai penurunan risiko konflik geopolitik yang selama ini menopang harga minyak di level tinggi.

Harapan Damai Rusia–Ukraina Redam Premi Risiko

Tak hanya soal Greenland. Sinyal diplomatik yang mengarah pada kemungkinan penyelesaian konflik Rusia–Ukraina turut menekan harga.

Perang yang berkepanjangan selama ini menjadi sumber ketidakpastian pasokan energi global, terutama untuk Eropa.

Ketika peluang damai mulai terbuka, premi risiko yang melekat pada harga minyak ikut tergerus. Pasar merespons cepat: spekulasi berkurang, aksi ambil untung meningkat.

Pasar Minyak Kembali ke Realitas Fundamental

Baca Juga :  Bank Indonesia Luncurkan Gerakan Edukasi Perlindungan Konsumen

Penurunan harga kali ini menegaskan satu hal: pasar minyak sangat sensitif terhadap narasi politik.

Saat ancaman mereda dan diplomasi mengambil alih, perhatian investor kembali tertuju pada faktor fundamental—pasokan yang relatif stabil dan permintaan global yang belum sepenuhnya pulih.

Bagi negara importir energi, kondisi ini menjadi angin segar. Namun bagi produsen, terutama yang bergantung pada harga tinggi, pelemahan ini menjadi peringatan dini.

Arah Selanjutnya Masih Rentan Berubah

Meski harga turun tajam, pasar belum sepenuhnya tenang. Setiap perubahan sikap politik, baik dari Washington maupun Moskow, berpotensi kembali mengguncang harga.

Untuk saat ini, satu pesan terbaca jelas di lantai bursa: selama risiko geopolitik mereda, minyak kehilangan alasan untuk bertahan mahal. (*)

RADARBISNIS – Pasar minyak dunia kembali kehilangan pijakan. Dalam satu sesi perdagangan, harga terperosok tajam, mencerminkan betapa rapuhnya sentimen energi global ketika tensi geopolitik mulai melunak.

Pada Kamis (22/1), harga minyak dunia turun sekitar dua persen dan menyentuh level terendah dalam sepekan.

Pelemahan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melunakkan nada kerasnya terkait Greenland dan Iran.

Bersamaan dengan munculnya sinyal positif yang membuka peluang berakhirnya perang Rusia–Ukraina.

Tekanan Datang dari Politik Global

- Advertisement -

Minyak mentah Brent ditutup melemah 1,8 persen ke level USD 64,06 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat merosot lebih dalam, turun 2,1 persen ke USD 59,36 per barel—harga terendah dalam sepekan terakhir.

Menurut laporan Reuters dilansir dari IDX Channel, pernyataan Trump menjadi salah satu pemicu utama perubahan arah pasar.

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  Prabowo-Gibran Tetap Dapat Rapor Biru di Tengah Tekanan Ekonomi Global

Presiden AS itu menyebut Washington telah mengamankan akses penuh dan permanen ke Greenland melalui kesepakatan dengan NATO.

Bagi pelaku pasar, pernyataan tersebut dibaca sebagai penurunan risiko konflik geopolitik yang selama ini menopang harga minyak di level tinggi.

Harapan Damai Rusia–Ukraina Redam Premi Risiko

Tak hanya soal Greenland. Sinyal diplomatik yang mengarah pada kemungkinan penyelesaian konflik Rusia–Ukraina turut menekan harga.

Perang yang berkepanjangan selama ini menjadi sumber ketidakpastian pasokan energi global, terutama untuk Eropa.

Ketika peluang damai mulai terbuka, premi risiko yang melekat pada harga minyak ikut tergerus. Pasar merespons cepat: spekulasi berkurang, aksi ambil untung meningkat.

Pasar Minyak Kembali ke Realitas Fundamental

Baca Juga :  Akhir Pekan, IHSG Melanjutkan Penguatan Naik 0,53 Persen ke Posisi 7.721,85

Penurunan harga kali ini menegaskan satu hal: pasar minyak sangat sensitif terhadap narasi politik.

Saat ancaman mereda dan diplomasi mengambil alih, perhatian investor kembali tertuju pada faktor fundamental—pasokan yang relatif stabil dan permintaan global yang belum sepenuhnya pulih.

Bagi negara importir energi, kondisi ini menjadi angin segar. Namun bagi produsen, terutama yang bergantung pada harga tinggi, pelemahan ini menjadi peringatan dini.

Arah Selanjutnya Masih Rentan Berubah

Meski harga turun tajam, pasar belum sepenuhnya tenang. Setiap perubahan sikap politik, baik dari Washington maupun Moskow, berpotensi kembali mengguncang harga.

Untuk saat ini, satu pesan terbaca jelas di lantai bursa: selama risiko geopolitik mereda, minyak kehilangan alasan untuk bertahan mahal. (*)

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Radarbisnis.com

Ikuti Kami:
Telegram: t.me/radartuban
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Radar Bisnis WhatsApp Channel : https:http://bit.ly/3DonStL. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
spot_img
spot_img

Artikel Terkait

spot_img

Terpopuler

spot_img

Artikel Terbaru

spot_img
spot_img
/